PEMBANGUNAN KELAUTAN UNTUK PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
Selain krisis BBM, turunnya kurs rupiah, beban utang negara dan melorotnya daya saing, permasalahan ekonomi paling krusial yang kini dihadapi bangsa Indonesia adalah kemiskinan (60 juta jiwa) dan pengangguran (37 juta orang). Oleh sebab itu, setiap sektor pembangunan harus berkinerja maksimal dan satu sama lain bersinergi untuk mengatasi sejumlah permasalahan tersebut. Di era globalisasi yang bercirikan liberalisasi perdagangan dan persaingan antar bangsa yang semakin sengit, maka segenap sektor (kegiatan) ekonomi harus mampu menghasilkan barang (goods) dan jasa (services) yang berdaya saing tinggi. Mengingat potensinya yang sangat besar, sementara permintaannya terus meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk dunia, maka ekonomi kelautan diyakini dapat menjadi keunggulan kompetitif dan sekaligus memecahkan persoalan bangsa.
Potensi ekonomi kelautan
Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pembangunan (ekonomi) kelautan yang sangat besar dan beragam. Sedikitnya terdapat sepuluh sektor ekonomi kelautan yang dapat dikembangkan guna memajukan dan memakmurkan Indonesia, yaitu: (1) perikanan tangkap, (2) perikanan budidaya, (3) industri pengolahan hasil perikanan, (4) industri bioteknologi kelautan, (5) pertambangan dan energi, (6) pariwisata bahari, (7) transportasi laut, (8) industri dan jasa maritim, (9) pulau-pulau kecil, dan (10) sumberdaya non-konvensional (non-conventional resources).
Potensi lestari sumberdaya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton/tahun atau 7% dari total potensi lestari SDI laut dunia. Saat ini tingkat pemanfaatannya baru mencapai 4,4 juta ton. Oleh karenanya, masih ada peluang untuk mengembangkan usaha perikanan tangkap di daerah-daerah yang SDI nya masih belum dimanfaatkan optimal, seperti dari Pantai Barat Sumatera, Pantai Selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT sampai ke ZEEI di Samudera Hindia; Teluk Tomini; Laut Sulawesi; Laut Banda; dan ZEEI di Samudera Pasifik.
Potensi produksi SDI yang dapat dihasilkan dari usaha perikanan budidaya jauh lebih besar ketimbang perikanan tangkap, yaitu sekitar 57,7 juta ton/tahun, dan baru diproduksi sebesar 1,6 juta ton (0,3%). Saat ini Indonesia merupakan produsen ikan terbesar keenam di dunia dengan volume produksi 6 juta ton (FAO, 2003). Apabila Indonesia mampu meningkatkan produksi perikanannya, terutama yang berasal dari usaha perikanan budidaya, menjadi 50 juta ton/tahun (75% dari total potensi), maka Indonesia akan menjadi produsen komoditas perikanan terbesar di dunia. Karena, negara produsen ikan nomor satu saat ini adalah RRC dengan total produksi 41 juta ton yang merupakan produksi puncak. Sekedar contoh adalah usaha budidaya tambak udang. Indonesia memiliki lahan potensial untuk tambak udang sekitar1.2 juta ha, dan baru diusahakan 350.000 ha dengan produktivitas rata-rata 0,6 ton/ha/tahun. Jika kita dapat mengembangkan usaha tambak udang seluas 500.000 ha dengan produktivitas rata-rata 2 ton/ha/tahun, maka akan menghasilkan 1 juta ton udang/tahun dan devisa US$ 6 milyar/tahun. Usaha tambak udang ini mampu menyerap tenaga kerja sekitar 3 juta orang. Masih banyak komoditas perikanan budidaya lainnya yang bernilai ekonomi tinggi, antara lain mutiara, kerapu, kakap, baronang, bandeng, nila, lobster, kepiting, rajungan, teripang, abalone, dan rumput laut. Lebih dari itu, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Oleh karenanya, potensi ekonomi industri bioteknologi kelautan sangatlah besar berupa industri farmasi (seperti Omega-3, squalence, viagra, dan sun-chlorela); industri kosmetika; bioenergi; dan industri lainnya. Secara potensial, nilai ekonomi total dari produk perikanan dan bioteknologi kelautan Indonesia diperkirakan sebesar US$ 82 milyar per tahun.
Meskipun belum ada perhitungan tentang potensi ekonomi pariwisata bahari. Namun jika kita membandingkan dengan negara bagian Queensland, Australia dengan panjang garis pantai 2100 km mampu menghasilkan devisa dari pariwisata bahari sebesar US$ 2 milyar pada tahun 2002, maka sebenarnya potensi ekonomi parwisata bahari Indonesia sangatlah besar.
Hampir 70% produksi minyak dan gas bumi kita berasal dari kawasan pesisir dan laut. Indonesia memiliki 60 cekungan yang mengandung minyak dan gas bumi. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan di pesisir, dan hanya 6 cekungan berada di daratan. Dari seluruh cekungan tersebut diperkirakan mempunyai potensi sebesar 11,3 miliar barel minyak bumi yang terdiri atas 5,5 miliar barel cadangan potensial dan 5,8 miliar barel berupa cadangan terbukti. Selain itu diperkirakan cadangan gas bumi adalah 101,7 triliun kaki kubik yang terdiri dari cadangan terbukti 64,4 triliun dan cadangan potensial sebesar 37,3 triliun kaki kubik.
Potensi ekonomi perhubungan laut diperkirakan sekitar 14 milyar US$ per tahun. Ini berdasarkan pada perhitungan bahwa sejak 15 tahun terakhir kita mengeluarkan devisa sekitar 14 milyar US$ per tahun untuk membayar armada pelayaran asing yang selama ini mengangkut 97% dari total barang yang diekspor dan diimpor ke Indonesia, dan yang mengangkut 50% dari total barang yang dikapalkan antar pulau di wilayah Indonesia. Di sektor jasa penyediaan tenaga kerja pelaut, potensinya pun luar biasa besarnya. Pada tahun 2000 kebutuhan pelaut dunia sebanyak 1,32 juta orang dengan gaji mencapai US$ 18 miliar/tahun. Dari jumlah tersebut Indonesia baru mampu memasok sebanyak 34 ribu orang (3 % dari total kebutuhan tenaga pelaut dunia). Sedangkan Pilipina mampu memasok 191 ribu pelaut (25 %) dan RRC menyediakan 104 ribu pelaut (10 %).
Belum lagi potensi ekonomi dari sektor industri dan jasa maritim (seperti galangan kapal, coastal and offshore engineering, pabrik peralatan dan mesin perikanan, pelabuhan laut, dan teknologi komunikasi dan informasi); pendayagunaan pulau-pulau kecil untuk pariwisata, mariculture, dan kegiatan ekonomi lainnya; dan pemanfaatan sumberdaya kelautan non-konvensional yang meliputi energi kelautan, deep sea water industries, benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam, dan lainnya.
Ekonomi kelautan ini akan semakin strategis bagi bangsa Indonesia, seiring dengan pergesaran pusat kegiatan ekonomi dunia dari Poros Atlantik ke Poros Pasifik. Hampir 70% dari total perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik. Dan, 75% dari barang-barang yang diperdagangkannya ditransportasikan melalui laut Indonesia dengan nilai sekitar US$ 1.300 trilyun setiap tahunnya.
Arah pembangunan kelautan
Pembangunan kelautan hendaknya diarahkan untuk meraih empat tujuan secara seimbang, yakni: (1) pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan; (2) peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku usaha, khususnya para nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat kelautan lainnya yang berskala kecil; (3) tepeliharanya kelestarian lingkungan dan sumberdaya kelautan; dan (4) menjadikan laut sebagai pemersatu dan tegaknya kedaulatan bangsa.
Untuk merealisasikan keempat tujuan termaksud, kita perlu segera melaksanakan empat agenda pembangunan kelautan secara sinergis dan produktif. Pertama adalah penegakkan kedaulatan di laut dengan cara menyelesaikan seluruh masalah perbatasan wilayah laut dan penguatan kekuatan hankam laut nasional. Kedua menyusun dan mengimplementasikan tata ruang kelautan nasional guna menjamin kepastian dan efisiensi investasi di bidang kelautan serta kelestarian ekosistem pesisir dan laut yang harus dilindungi. Naskah akademis tata ruang kelautan nasional sebenarnya sudah disiapkan oleh DKP sejak awal 2002, sehingga tinggal diimplementasikan dalam bentuk Keppers atau PP. Ketiga adalah peningatan produktivitas dan efisiensi usaha ekonomi kesepuluh sektor kelautan tersebut di atas.
Dalam jangka pendek, sektor-sektor ekonomi kelautan yang feasible untuk memecahkan permasalahan ekonomi adalah perikanan budidaya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, industri pelayaran (perhubungan laut), dan pembangunan pulau-pulau kecil. Pembangunan perikanan budidaya dan perikanan tangkap hendaknya dilaksanakan dengan menerapkan sistem bisnis perikanan secara terpadu yang mencakup aspek produksi, penanganan dan pengolahan, dan pemasaran hasil perikanan. Selain itu, prioritas pembangunan seyogyanya fokus pada komoditas unggulan, yakni udang, kerapu, kakap, bandeng, nila, patin, kepiting, rumput laut, dan kerang mutiara untuk perikanan budidaya. Udang, tuna, cakalang, ikan demersal dan pelagis kecil yang bernilai ekonomis tinggi untuk perikanan tangkap. Sehubungan dengan pasar produk hilir rumput laut yang sangat besar atau tak terbatas dengan harga ekspor tinggi (US$ 4 – 70/kg) dan Indonesia memiliki potensi produksi rumput laut terbesar di dunia (18 juta ton rumput laut kering/tahun), maka fokus industri bioteknologi kelautan adalah untuk menghasilkan produk semi-refined dan refined (produk akhir) rumput laut jenis karaginan, alginat, dan agarosa untuk industri farmasi, kosmetik, diary products, tekstil, cat, dan industri lainnya. Akan halnya perhubungan laut, sesungguhnya tinggal mengimplementasikan Inpres No.5/2005 tentang Pelayaran Nasional secara serius dengan memberlakukan azas cabotage; meningkatkan produktivitas dan efisiensi pelayanan pelabuhan laut; mengembangkan Pelabuhan Sabang, Batam, Tanjung Priok, dan Bitung sebagai International Hub Port; penguatan dan pengembangan industri galangan kapal nasional (PT. PAL, PT. IKI, PT. Kodya Bahari, dll.); dan peningkatan produktivitas dan efisiensi manajemen pelayarannya itu sendiri.
Singkatnya, jika kita mampu mendayagunakan segenap potensi (berkah) ekonomi kelautan, penulis yakin bahwa bidang kelautan tidak hanya mampu mengeluarkan bangsa ini dari persoalan kemiskinan dan pengangguran, tetapi juga dapat menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, adil-makmur, dan bermartabat. Kinerja sektor-sektor ekonomi kelautan seperti saya uraikan di atas hanya mungkin terwujud, apabila kebijakan politik-ekonomi (seperti fiskal-moneter, perkreditan, hukum, keamanan, otoda, infrastruktur, dan ketenagakerjaan) bersifat kondusif bagi tumbuh-kembangnya ekonomi kelautan. Dalam konteks inilah, seharusnya pemerintah bukan hanya melakukan gerakan nasional RPPPK (Revitalisasi Pembangunan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) yang kental dengan orientasi pembangunan daratan; tetapi juga mensinergikannya dengan revitalisasi pembangunan kelautan. Oleh karena itu, Infratsructure Summit mestinya disinergikan dengan Agricultural Summit danMaritime Summit, sehingga kita mampu mendayagunakan seluruh potensi SDA dan SDM bagi kejayaan dan kemakmuran bangsa dalam waktu dekat.